KALAU MAU BUKA USAHA, INI YANG HARUS KITA TAHU TENTANG RESIKO

Kemarin ngobrol sama teman dan kebetulan ada saudaranya juga. Si saudara ini berkeinginan untuk membuka usaha. Dan ada satu pertanyaan klasik yang selalu muncul ketika mau buka usaha. Dia bertanya tentang gimana seh resiko usaha?

Jawaban saya sederhana…….
Yang pertama bahwa semua hal ada resikonya
Yang kedua kita cuma harus tahu kadar resiko kita ada dimana

Hal pertama yang harus kita sadari bahwa segala hal itu selalu ada resikonya, kita diam aja nggak ngapa-ngapain juga beresiko koq.
Begitu juga dengan usaha, semua pasti ada resikonya
Dan idiom umum yang berlaku di dunia, yaitu high risk high return.

Nah…..
Karena semua hal dan semua usaha memiliki resiko, kita jangan berfokus sama resikonya. Tapi berfokuslah mengukur tingkat resiko dan bagaimana menghadapinya

Ada data statistik tentang usaha yang baru dimulai di buku E-myth yang ditulis oleh Michael Gerber. Ia meneliti 1 Juta UKM di US dan didapatkan hasil :
1. 40% bisnis tutup di tahun ke 2
2. 80% bisnis tutup di tahun ke 5
3. 96% bisnis tutup di tahun ke 10
4. Hanya 4% yang mampu bertahan

img-1514907237.jpg

Jadi ibarat ada 100 usaha baru, maka hanya 20 usaha saja yang bisa melewati usia 5 tahun, dan hanya 4 usaha saja yang bisa terus bertahan lebih dari 10 tahun.

Serem kan data statistiknya? Hehehe….
Oleh karena itu memang benar bila dikatakan begitu besarnya resiko untuk menajalankan bisnis.

Yang kedua kita juga harus tau kadar resiko kita dari sebuah tindakan yang tentu berbeda beda dari tiap orang.
Ini ada sebuah ceritanya yang menganalogikan tentang kadar resiko.

Bila ada orang datang kepada saya. Saya tidak mengenal orangnya sama sekali. Penampilannya berambut gondrong, penuh brewok, tatoan di sekujur tubuhnya serta bekas luka melintang di pipinya. Ia pun mengatakan baru saja keluar penjara. Ia berkata “ayo kita kerjsama, mari kita buat rumah makan, saya kelola bisnisnya, kamu cukup kasih modal 100 juta”

Ia mengajak saya berbisnis yang saya ga tau ilmunya, dia pun belum punya pengalaman, di tambah dengan kesan pertama penampilannya. Bagi saya ini sangatlah BERESIKO. Saya berpikir ini mah buang buag uang aja, kalau ga bangkrut ya palingan ditipu nanti

Mungkin cerita akan berbeda bila ida datang ke seorang Chairul Tanjung.
Bila orang yang sama datang ke CT, dengan penampilan yang sama, dan berbicara hal yang sama, meminta modal 100 juta untuk buat rumah makan. Mungkin ada kemungkinan akan di berikan.

CT mungkin berpikir, ya sudahlah, anggap aja sedekah 100 juta. siapa tau dia bisa jadi baik. Buat CT kehilangan uang 100 juta ga akan mengoncangkan kehidupannya. Tidaklah BERESIKO kejadian ini untk seorang CT

Kita sendiri yang tahu dimana kita bisa bermain dengan resiko, dan memang harus tahu posisi kita. Kalau dah paham tentang 2 prinsip itu, nah tinggal kita mengelola resikonya

Sebenarnya resiko bisnis itu apa aja seh?
Beberapa resiko yang mungkin di hadapi didalam, yaitu

1. resiko keuangan
2. resiko produk
3. resiko market
4. resiko membentuk tim
5. resiko eksekusi

Lalu bagaimana bila kita mau pertama kali usaha, bagaimana mengelola dan mengukur resiko bisnis yang akan kita jalani?
Paling gampang ya sesuai cerita tadi. Ukur resiko pribadi kita, bila usaha kita gagal maka kita gak akan mati, hidup kita ga akan jadi susah.

Sedangkan bila kita masih kerja dan mau pindah kuadrann menjadi usaha, maka ada beberapa tips yang mungkin bisa dijalanin untuk mengurangi kadar resiko yang akan kita hadapi nanti

1. Tentukan dulu kapan mau resign. Kalau ga ada targetnya biasanya ga akan jalan itu usaha. Bisa jalan seh usahanya, sebagai usaha sampingan, tapi bisa jadi selamanya jadi usaha sampingan loh. Dan kebanyakan yang namanya usaha sampingan yah hasilnya juga cuma sampingan. Lagian ga baik kelamaan hidup di dua dunia seperti itu. Ga fair juga kita kerja dan digaji tapi fokus pikiran dan energi kita banyak dicurahkan untuk usaha. sebaiknya hidup di dua dunia seperti ini jangan lebih dari satu tahun. namun ini semua tergantung dari kesiapan

2. Mulailah menabung. Bisa buat modal usaha plus terutama buat biaya hidup selama minimal 1 tahun kedepan. Kenapa harus nabung? ya biar kita ada cadangan aja buat hidup, jadi kita ga langsung bergantung sama hasil usaha. Sedangkan usaha belum tentu meledak penjualannya di awal waktu. Terutama buat laki laki yang sudah berkeluarga, ini sangat penting. Jangan berharap bisa fokus dan kreatif menjalankan usaha, ketika dapur nyonya dirumah besok belum tentu bisa ngebul. Mulai belajar sederhana, ga usah kebanyakan gaya. Bersabarlah, biarkan bisnis kita yang nanti membiayai gaya hidup. Saya secara pribadi bukan tipikal pendukung gerakan bakar kapal, yang asal resign

3. Mulai belajar tentang wirausaha. Buat saya pribadi justru ini modal utama sebelum terjun ke dunia usaha. Saya mulai banyak bergelut dengan buku tetang wirausaha dan pengembangan diri sejak 2008, dan intensif ikut seminar bisns dari tahun 2010. Bahkan saat itu ga kebayang mau usaha apa. ternyata kesempatan muncul di tahun 2013. Dunia usaha begitu banyak variabelnya yang bisa menyebabkan kita menjadi gagal atau sukses, maka ilmu lah yang akan menunjukan jalannya. Persiapan diri kita dengan mulai membaca buku, ikut seminar dan ikut komunitas bisnis. Pelajari tentang keuangan, produk, market, membangun tim dan juga bagaimana tentang proses dan eksekusi sebuah strategi. Imam Syafi’i berkata “Kalau kau tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka bersiaplah menanggung perihnya kebodohan”.

– Berapa banyak buku yang kamu baca? –

4. Mulai aja. Ini yang terakhir, penting untuk yang memang ingin memulai usaha, ya mulai aja. take action. di awal bisnis itu, banyakin actionnya sedikit mikirnya.

Ditulis dari pengalaman pribadi. Namun tulisan ini bukan buat ngajak orang resign trus bikin usaha. Saya ga pernah ngajak2in orang untuk usaha, namun akan selalu berbagi cerita ketika diminta. Saya bukan tipikal kompor yang model begitu koq.

Toh karyawan profesional atau usahawan juga sama sama mulia ketika ia berusaha menjadi pejuang keluarga.

Lagian belum tentu juga yang usaha jadi lebih kaya dibanding yang masih jadi karyawan. Please do not compare. semua orang punya peran dan passionnya…..

Silahkan share jika dirasa bermanfaat

Salam

HATI HATI AKAN NIATMU KETIKA BUKA USAHA

“Bro, gw pengen buka usaha neh, biar bisa santai dan banyak waktu untuk keluarga. Gimana mulai nya neh?”

“stress neh, berangkat pagi, kadang pulang bawa kerjaan juga”

Itu salah satu ungkapan temen via chat, yg skrg masih jadi profesional pekerja dan ingin berubah menjadi usahawan.

Gw jawab singkat dengan sok bijaksana dan bijaksini

“Bro, istigfar….”

Ga salah bro? Niatan pengen berubah kuadran karena itu aja?
Sebenenrnya tujuan itu seh ga ada salahnya. Cuma kalau penempatan waktunya diawal bisnis bisa jadi gak pas, malahan bisa jadi berbahaya dan kurang bijaksana.

Kenapa?
Bener seh kita bisa santai, kalau bisnis jalan, jualan ok, omset keren, profit mantab. Lah kalau kagak? Boro2 waktu untuk happy sama keluarga, lo masih boleh pulang ke rumah aja masih untung.

Diawal dulu semua kita kerjain sendiri. Ibaratnya jadi beneran kaya CEO, chief everything officer. Para stakeholder di kantor, dah bisa mulai komunikasi dan diskusi dari subuh. Apa aja ide yg kepikiran pas subuh langsung ngobrol di grup. Ngerjain konten website aja bisa tiap hari sampe jam 2 malam. Nyari data email costumer buat email marketing aja tiap malam. Sampe om gugle nya dah hapal, apa yg mau diketik dikolomnya.
Ibarat waktu kerja di tahun pertama mah. Kerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Mirip mirip lah sama apotek K24. Belum ada tuh waktu buat piknik keluarga. Selain blm ada waktu, yg pasti blm ada uangnya juga kali

Tentang jualan malahan lebih ngeri lagi. Sepi bos…. malahan dulu sempet punya ide gila, gimana kalau gelar dagangan itu alat lab, pas depan mesjid abis solat jumat. 🙂
Jangankan dapet order, ada org telp atau email minta penawaran aja dah seneng banget dah. Inget banget dulu kalau pas bales email penawaran tuh kadang semua endorfin langsung keluar, saking senengnya. Secara kuantitatif dan kualitatif, mungkin konsentrasi endorfin nya udah sama pada saat elo orgasme. D#[%bsga/)jcbd¿$j#sensor

Di tahun pertama elo bakalan mencurahkan segenap hati, pikiran, emosi, jiwa, bahkan cinta dan romantisme elo ke bisnis. Ga akan ada waktu santai dan leha-leha. Belum jualan woy…

Menurut penelitian, bahwa 80% usaha mati di tahun pertama. Dari sisanya 16% akan mati sebelum masuk tahun ketiga. Hanya 4% bisnis yang bisa selamat dan panjang umur. Nah kebayang gak lo, lo masuk kategori yang mana, kalau diawal bisnis aja dah pengen santai?

Intinya, jangan sampe elo salah menempatkan tujuan pengen bisnis. Kalau elo pengen santai dan banyak waktu, mungkin bukan bisnis jalannya. Akan beda soal kalau tujuan pengen santai dan banyak waktu buat keluarga itu ditaruh sebagai tujuan akhir.

Kalau skrg masih kerja tp pengen lebih santai. Mending tingkatkan kemampuan, asah ketrampilan, tambah ilmu. Masalah pekerjaan yg bikin stress dan ga jd santai dalam bekerja, biasanya karena kurangnya kapabilitas kita dalam menghandle beban pekerjaan. Setelah terus meningkatkan kapabilitas, kalau bisa bentuk tim yg bisa bantu pekerjaan kita. Dengan membetuk tim, maka kita membagi beban pekerjaan. Biasanya beban kerja fisik akan berkurang, tp berubah jd beban berpikir kreatif dan startegis.
Dan cara paling gampang lainnya, ya bikin santai aja lingkungan kerja kita. Banyak bersyukur dan jangan banyak mengeluh. Karena keluhan akan cuma bikin beban semakin terasa.
Baru inget lagi kata2 keren ini
“Problem is not the problem, the problem is your attitude”.

KARYAWAN PEMBELAJAR

Kemarin adalah salah satu seminar terberat dalam hidup saya 🤣

Karena memang materinya berat, selain itu disampaikan full dalam bahasa inggris. Ketawa aja nunggu temen sebelahnya ketawa dulu 😜

Dan disetiap pelatihan yang saya ikuti, biasanya saya hanya mencari 1 atau 2 jurus saja yang bisa saya praktekan dalam bisnis atau hidup saya.

Materi kemarin tentang digital transformasi. Bicara tentang transformasi sebuah perusahaan di era digital. Bagaimana melakukan inovasi.

Satu hal menarik dibawakan oleh Bapak Risman Adnan, direktur RnD Samsung Indonesia. Dia bilang salah satu syarat agar perusahaan bisa melakukan transformasi dan inovasi di era digital adalah bila karyawannya adalah karyawan pembelajar.

Pertanyaannya gimana caranya bisa tau bahwa calon karyawan yang mau kita hire adalah seorang pembelajar?

Gampang kata dia……

Biasanya dia akan kasih calon karyawan sebuah buku, dikasih waktu 2 minggu untuk dibaca. Dia minta tuliskan resume dan dipresentasikan ke dia.

Menurut dia hanya orang pembelajar yang mau melakukan ini. Orang yg pintar saja belum tentu mau. Orang pembelajar adalah orang yang bisa membaca, menulis dan mempresentasikan sesuatu.

Dan ini adalah “AHA moment” saya…….

Menurut saya ini adalah masalah attitude dan daya juang nantinya

Lah…..
Ya itu kan perusahaan Samsung, ya pasti calon karyawannya mau lah disuruh baca buku. Wajar mau masuk ke perusahaan besar.

Nah justru itu. Kalau perusahaan kita masih kecil. Kalau calon karyawan kita dikasih
tugas baca aja gak dikerjain karena menganggap ini perusahaan kecil…. malah jadi sebuah indikator bad attitude terhadap apresiasi ke perusahan.

Seru juga jurus ini kalau dipraktekin