APA PERASAANMU KALAU JADI KARYAWAN SEVEL?

Lagi rame-rame bahas tentang penutupan seluruh gerai sevel. Ada yang bahas tentang regulasi pemerintah yang berperan terhadap penutupan ini, ada juga yg berpendapat karena memang bisnis model dan segmentasinya yang ga jelas

Tapi saya tertarik melihat sisi lain setelah baca satu berita. Dimana penutupan sevel akan mengancam lebih dari 1600 pegawai menjadi pengangguran.
Padahal menurut BPS, data Februari 2017 jumlan penganguran sudah mencapai 7,01 juta orang walaupun katanya ini menurun setiap tahunnya

Kejadian penutupan sevel ini pasti akan mambah angka ini. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan tahun 2016, total karyawan yang dipekerjakan sevel mencapai 1.605 orang yang terdiri dari berbagai jenjang pendidikan.

Di antaranya, 1.384 orang lulusan SMA, 62 orang lulusan diploma, 145 orang lulusan S1 dan 2 orang lulusan S2. Ada pula, 7 orang yang berpendidikan SMP dan 5 orang berpendidikan SD.

Kebayang gak sekarang perasaan para pegawai sevel? Deg deg-an? Atau dah siap2 loncat keperusahaan lain?

Di era disrupsi seperti saat ini, sebenernya ga akan ada lagi tingkat keamanan yang sangat tinggi bagi seorang profesional atau pengusaha.
Dunia berubah begitu cepatnya. Seorang supir bluebird zaman dl bisa berbangga bahwa penumpangnya bisa sampe rela antri di bandara. Sekarang harus berjuang lebih keras menghadapi persaingan dengan taksi online.

Menurut saya diantara 1600 karyawan sevel setidaknya ada 3 golongan ini:

1. Golongan yang pasrah dan putus asa. Jumlahnya hanya sedikit. Golongan yang udah bingung banget harus ngapain setelah kejadian ini. Ibaratnya main bola, ini klub yang cuma berjuang menghindari degradasi. Kerjanya juga asal ga dipecat aja, udah bisa bersyukur banget.

2. Golongan yang siap-siap cari kerja lagi. Paling banyak anggotanya, kelompok medioker dengan kemampuan rata-rata. Kalau di bola neh, ibarat tiap musim urutannya antara 8-13. Itu aja…. jangankan ngimpi juara, masuk liga champion juga kagak. Kerja ya asal selesai tugas aja. Biasanya kelas pegawai 8-17, diluar jam kerja bye bye.

3. Golongan yang tenang-tenang aja. Koq bisa? Biasanya ini golongan yang anggotanya sedikit, bahkan bisa dibilang sedikit banget. Golongan yang punya kualitas diatas rata2. Nah ini neh, ibarat klub bola kelasnya favorit juara. Kalau ini bicara kuantitas dan kualitas kerja dah jadi jaminan.

Golongan ketiga ini punya keyakinan bahwa perusahaannya akan berusaha mempertahankan mereka. Atau mereka yakin kalau mereka keluar pun akan banyak perusahaan yang mau merekrut mereka.

Trus gimana caranya bisa masuk golongan ketiga? Ilmu yang saya dapatkan dari beberapa guru. Saya pun praktekin loh ketika jadi profesional dulu 😀.
Caranya……. pastikan kamu harus bisa jalanin semuanya. Orang di golongan ketiga harus seperti ini:

1. Mencapai prestasi berulang ulang
2. Dikenal orang yang tepat dan orang yang banyak
3. Berperilaku menyenangkan
4. Selalu upgrade diri

PRESTASI BERULANG
Ini ukuran paling awal, kalau kamu jadi karyawan, kamu termasuk karyawan berprestasi atau tidak?
Kalau sekali berprestasi atau capai target, bisa jadi beruntung. Tapi kalau capai target dan berprestasi terus menerus, berarti karena skill.
Nah orang golongan ketiga standar kerjanya tinggi, jadi biasanya berprestasi dari tahun ke tahun.
Jadi kalau dikasih target 1M dan tercapai 1M, ga usah bangga. Itu namanya kewajiban. Apalagi tercapai targetnya cuma sekali-sekali doang

Orang di golongan ketiga biasanya punya prinsip “give more, expect less”.
Ketika dikasih target 1M, otaknya kerja buat 1,25M. Ketika target 5M, otaknya kerja buat target 7M.

Dikasih target kelar selesai seminggu, ternyata 3 hari selesai.
Diminta 2 data aja, dikasih 4 data dan valid

Orang golongan ketiga ini juga biasanya selalu minta tanggung jawab lebih. Ga membatasi dirinya dengan job desc baku. Dan bersedia membantu rekan lain bahkan yang lintas divisi

Kalau mau ada di golongan ini berarti harus kerja lebih keras aja. dan bagusnya neh, ga banyak orang yang sanggup melakukannya. Banyak karyawan yang tau untuk bisa mencapai prestasi yang gemilang maka harus bekerja keras, namun gak banyak yang mau dan sanggup melakukannya. 


DIKENAL
Percuma berprestasi kalau ga dikenal. Orang golongan ketiga punya networking yang luas. Biasanya dia kenal banyak orang lintas divisi bahkan lintas perusahaan. Kenal banyak bos atau atasan di divisi lain. Bahkan dikenal oleh perusahaan lain

Ketika dia punya prestasi, dia berani membicarakannya dengan banyak atasan, termasuk atasan yang lintas divisi.
Percuma kamu berprestasi, tapi kamu cuma cerita ke tukang ojek langganan kamu. Yang ada cuma dikasih ucapan “selamat ya mas/mba, kamu hebat deh”. Tapi gaji dan hidup kamu ga akan berubah

Orang golongan ketiga punya kemampuan untuk membangun networkingnya, dimana dia dikenal banyak orang dari banyak kalangan.
Jadi belajar kenalan, perluas networking, dan jadikan silahturahmi itu jadi hobby.

Btw bedain ya ngejilat sama menginformasikan prestasi. Kalau ngejilat ngejual omongan kosong, kalau menginformasi, prestasi itu real adanya.

MENYENANGKAN
kalau kata Pa Jamil Azzaini, ga perlu pakai ilmu kodok melompat untuk sukses, sikut kanan kiri, injak bawahan, jilat atasan. Kalau kita berperilaku tidak menyenangkan, ga ada yang bantu, yang ada nambah musuh.

Makin kamu baik dan menyenangkan, makin banyak omongan positif yang beredar tentang kamu.
Kalau kamu sales, sekali kali lah traktir orang admin, gudang atau bagian lainnya kalau lagi dapet bonus. Kan kesehariannya juga dibantuin tim lain. Jadi jangan cuma nyuruhnya aja

Be Nice….!!!!

Ingatlah bahwa kebaikan kecil akan menciptakan kebaikan lainnya, yang pada akhirnya akan kembali kepada kita sendiri.

SELALU UP GRADE DIRI
Belajar sesuatu yang baru, pertajam kemampuan. Dan kita ga akan pernah tau apa yang terjadi.
Saya resmi resign dari profesional tahun 2013, tapi saya dah ikut seminar bisnis dan pengembangan diri dari tahun 2009. Bahkan saat itu juga belum tau dan kepikiran bakal mau usaha.
You have to pay the price for your self development….!!
Kalau emang ga ada budget dari perusahaan, bayar sendiri. BERANGKAT…!!!
Banyak-banyak baca buku, jangan kebanyakan baca berita online dari portal abal2.
Karena belajar itu bukan biaya, tapi investasi
Kalau mau masuk ke orang golongan ketiga, ini bagian yang penting.

Neh baca disini untuk tahu pentingnya baca buku

Indikator apa kalau kamu sudah atau belum ada di golongan ketiga? Jawab aja pertanyaan 3 pertanyaan ini

1. jika perusahaanmu mengurangi pegawai, apakah kamu termasuk yang di PHK atau yang dipertahankan?
2. Seandainya kamu terpaksa di PHK, seberapa banyak perusahaan kompetitor atau perusahaan lain yang akan memperebutkanmu?
3. Seandainya kamu di PHK dan akan beralih menjadi wirausaha, seberapa siapkah kamu?

Kalau masih bingung jawabnya apalagi ga punya jawaban, berarti saatnya BELAJAR LAGI….!!!!

Udahan ah….
Catatan sok tau, dipojokan rumah ibu di Cilacap
Ga bisa tidur lagi

Salam….

Silahkan di share jika dirasa bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *